Emak, wanita usia lanjut yang sabar, tulus, dan penuh kebaikan hati, seperti umat Islam lainnya, sangat ingin menunaikan ibadah haji. Sayangnya, Emak tidak memiliki biaya untuk mewujudkan keinginannya. Emak sehari-hari berjualan kue dan juga dari Zein, anaknya yang duda, penjual lukisan keliling. Walaupun Emak tahu bahwa pergi haji adalah hal yang sulit diraih, Emak tidak putus asa, dia tetap mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk disetorkan ke tabungan haji di bank. Zein, yang melihat kegigihan Emak, berusaha dengan berbagai cara untuk dapat mewujudkan keinginan Emak. Tapi, keterbatasannya sebagai penjual lukisan keliling, serta masalah-masalah yang diwarisinya dari perkawinannya yang gagal, menyebabkan Zein hampir-hampir putus asa dan nekat. Sementara, tetangga Emak yang kaya raya sudah beberapa kali menunaikan haji, apalagi pergi umroh. Di tempat lain ada orang berniat menunaikan haji hanya untuk kepentingan politik. Apakah ada jalan bagi Emak agar keinginannya terwujud? Apakah yang dilakukan Zein?
Wah, setelah dua kali nonton film religi ini, akhirnya saya berhasil menitikkan air mata. Saya amat terkesan dengan film ini, terutama pada ketegaran hati Si Emak. Saya ulas dulu filmnya, awalnya film ini mengekspos kaum miskin, bagaimana mencari makan, bagaimana untuk hidup enak disamping kemiskinan yang melanda. Setelah itu baru penggambaran bagaimana sih kehidupan orang yang kaya raya, mau ini itu tinggal sebut dan terlaksana. Yang menjadi hubungan antara kaya dan miskin di film ini adalah naik haji. Orang miskin bersusah payah mencari dan mengumpulkan uang sedangkan orang kaya sudah berkali-kali naik haji maupun umroh. Ada juga cerita yang kurang patut ditiru, yaitu naik haji karena ingin bareng artis atau hanya ingin mendapatkan gelar haji di depan namanya. Wah, sungguh ironis sekali, orang yang berduit dengan mudahnya dapat pergi naik haji, sedangkan yang miskin harus bersusah payah bekerja bahkan menunggu berpuluh-puluh tahun hingga uangnya terkumpul. Namun jangan merasa iri dengan orang kaya, karena masih ada Tuhan yang dapat membantu kita dalam berbagai macam masalah dan ketidakadilan. Karena dimata Tuhan, yang membedakan setiap umatnya antara lain tingkat keimanan kita. Di film ini orang yang punya keteguhan iman yang kuat adalah Si Emak.
Dengan berbagai masalah yang bertubi-tubi mendera dan semakin menjauhkannya dari naik haji, dia tetap sabar dan tawakal. Sungguh keteguhan hati emak inilah yang berhasil membuat saya menangis. Ini adalah satu dari sekian film yang berhasil membuat saya menangis. Karena memang film religi ini sangat kuat ceritanya dan karakternya mudah saya jumpai di sekitar saya. Lanjut bicara masalah teknis, film ini menyajikan gambaran hitam putih kehidupan antara kaya dan miskin. Semua tersaji sangat kontras di film ini. Angle kameranya pun sangat rapi dan yang paling membuat saya kagum adalah akting Anak Si Emak, Reza Rahadian.dia kembali membuktikan kualitas aktingnya setelah bermain bagus di Perempuan Berkalung Sorban.
About
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 09 April 2011
Kamis, 27 Januari 2011
Le Grand Voyage (2004)
Le Grand Voyage adalah road movie Islami buatan Perancis yang disutradarai oleh Ismaël Ferroukhi. Film yang dibintangi oleh Nicolas Cazalé dan Mohamad Majd ini menceritakan lika-liku perjalanan sekitar 5000 kilometer dari Perancis sampai Arab Saudi. Réda adalah remaja imigran asal Maroko yang lahir dan besar di Perancis. Kehidupan Réda beradaptasi dengan lingkungan negara pusat mode dunia ini, sekolah dan berpacaran dengan gadis lain. Beda dengan ayahnya yang taat beribadah. Masalah muncul ketika sang ayah mengajak Réda untuk mengantarkannya naik haji. Naik haji yang membuat Réda kalang kabut karena harus memakai mobil menyusuri pinggiran Eropa bagian selatan ke Mekah. Réda awalnya keberatan, karena menempuh jarak sekitar 5000 kilometer tentunya akan melelahkan, juga beberapa hari Réda harus meninggalkan pacarnya. Tapi ayah Réda tetap pada pendirian, akhirnya Réda pun mau menyupiri ayahnya untuk naik haji melalui jalan darat bukan naik pesawat seperti kebanyakan. Dalam perjalanan inilah berbagai konflik antar ayah-anak berlangsung. Berbagai perbedaan antara ayah yang taat beribadah dengan anak yang bergaya kebarat-baratan pun teruji. Tidak hanya itu, berbagai hambatan dalam perjalanan pun juga terjadi. Lalu apakah sang ayah sanggup menunaikan rukun Islam yang kelima?
Grand Voyage berhasil menampilkan hubungan antar ayah dan anak yang berbeda gaya. Bukan berbeda agama, karena mereka berdua muslim, namun anaknya yang bergaya kebarat-baratan merupakan suatu pembelokan terhadap agama Islam. Sang sutradara memang menampilkan hal tersebut secara terang-terangan namun tidak begitu gamblang menjadikan film ini tetap keren. Adegan-adegann konflik pun ditampilkan layaknya konfrontasi batin antar kdua karakter. Konflik yang dibangun juga akting para pemainnya pun sangat menyentuh hati. Hubungan antara ayah dan anak yang tadinya dingin lambat laun menjadi pertengkaran yang berujung pada saling pengertian antara satu sama lain. Orang Islam mana pun akan bergetar hatinya menyaksikan film yang penuh makna ini. Tidak hanya konflik yang disajikan film ini, namun sebagai road movie, pemandangan sepanjang perjalanan disajikan begitu menakjubkan. Dari daerah Perancis, Italia, Slovenia, Kroasia, Bosnia, Serbia, Bulgaria, Turki hingga gurun pasir di Timur Tengah. Apalagi pada adegan akhir, film ini syuting di Mekah, dan jarang sekali ada film non-dokumenter yang bersetting naik haji di Mekah. Selama perjalanan pun banyak sekali hal-hal yang menarik, salah satunya adalah dialog menyentuh mengapa sang ayah lebih memilih naik haji jalan darat daripada naik pesawat terbang. Sungguh, Le Grand Voyage menang film Islami yang menyentuh. Tak heran jika film ini mendapat berbagai penghargaan, salah satunya dari Venice Film Festival. Secara keseluruhan film ini sangat diwajibkan untuk ditonton bagi seluruh umat muslim di dunia. Selain karena penuh makna, namun juga banyak sekali hal-hal yang dapat kita pelajari tentang Islam dalam film ini.
Grand Voyage berhasil menampilkan hubungan antar ayah dan anak yang berbeda gaya. Bukan berbeda agama, karena mereka berdua muslim, namun anaknya yang bergaya kebarat-baratan merupakan suatu pembelokan terhadap agama Islam. Sang sutradara memang menampilkan hal tersebut secara terang-terangan namun tidak begitu gamblang menjadikan film ini tetap keren. Adegan-adegann konflik pun ditampilkan layaknya konfrontasi batin antar kdua karakter. Konflik yang dibangun juga akting para pemainnya pun sangat menyentuh hati. Hubungan antara ayah dan anak yang tadinya dingin lambat laun menjadi pertengkaran yang berujung pada saling pengertian antara satu sama lain. Orang Islam mana pun akan bergetar hatinya menyaksikan film yang penuh makna ini. Tidak hanya konflik yang disajikan film ini, namun sebagai road movie, pemandangan sepanjang perjalanan disajikan begitu menakjubkan. Dari daerah Perancis, Italia, Slovenia, Kroasia, Bosnia, Serbia, Bulgaria, Turki hingga gurun pasir di Timur Tengah. Apalagi pada adegan akhir, film ini syuting di Mekah, dan jarang sekali ada film non-dokumenter yang bersetting naik haji di Mekah. Selama perjalanan pun banyak sekali hal-hal yang menarik, salah satunya adalah dialog menyentuh mengapa sang ayah lebih memilih naik haji jalan darat daripada naik pesawat terbang. Sungguh, Le Grand Voyage menang film Islami yang menyentuh. Tak heran jika film ini mendapat berbagai penghargaan, salah satunya dari Venice Film Festival. Secara keseluruhan film ini sangat diwajibkan untuk ditonton bagi seluruh umat muslim di dunia. Selain karena penuh makna, namun juga banyak sekali hal-hal yang dapat kita pelajari tentang Islam dalam film ini.
Langganan:
Postingan (Atom)











